Kamis, 01 Oktober 2009

Seni Yang Membebaskan
Seni sebagai sebuah bagian dari kebudayaan manusia telah menjadi akar dari dasar kehidupan masyarakat, dengan kata lain telah menjadi nadi yang mengalir dalam bagian kehidupan masayarakat itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, walaupun seni sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun seni masih saja menjadi hal yang sering kali bertentangan dengan kehidupan terutama dengan norma dan agama. Dengan benturan yang terjadi tersebut menjadikan seni sering kali sebagai sebuah kesalahan yang membelenggu kebebasannya. Kebebasan yang seharusnya ada dalam seni itu menjadi sebuah pengikat yang mengebiri kreativitas dari para pelaku seninya, dan pengebirian tersebut menjadikan seni sering kali tergilas saat akan berkembang menjadi sebuah media pembebasan dari keterbelengguan berfikir masayarakat, pembelengguan tersebut yang akhirnya menjadikan masyarakat banyak memahami seni sebuah bentuk eksklusifitas yang akan sulit untuk dijangkau bagi mereka yang tidak memiliki bakat atau kemampuan, sedangkan seni sangat komplek dalam kehidupan masayarakat.
Disadari atau tidak, hal tersebut masih banyak terjadi dalam pola pandang masyarakat kita saat ini, sehingga masyarakat memahami seni sebagai sebuah bentuk yang berdiri sendiri, sering kali masayarakat lupa bahwa seni adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya sehari-hari.
Tentunya perekonomian adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan seni dan budaya sebuah masayarakat. Perekonomian yang kuat akan menjadikan seni sebagai sebuah bagian yang semakin menyatu dengan masyarakat itu sendiri. Semakin meningkat sebuah kebudayaan, maka semakin tinggi pula pemahaman masyarakat akan seni dan budayanya.
Semoga dengan perkembangan perekonomian yang ada saat ini semakin memberikan angin segar bagi pertumbuhan kesenian di Indonesia, apapun seni itu dan bentuknya, sehingga seni akan semakin benar-benar menjadi sebuah media pembebasan dari pemikiran dan memberikan kecerdasan yang mencerakhan bagi masyarakan sebagai sebuah komponen bangsa dan negara.

Senin, 03 November 2008

Seni vs Tuhan
Seni banyak dinilai sebagai bagaian dari keindahan yang menjadikan manusia memahami eksisitensinya sebagai pribadi yang menciptakan(dalam ruang dan batas tertentu) dan dari senilah manusia akan mengekspesikan dirinya, baik itu seni rupa, seni pertunjukan, seni menghitung, ekonomi, computer maupun seni apapun yang diciptakan dan menjadikan manusia semakin berbudaya dan berakal. Sebagai homo sapiens dan homo ludens, maka manusia akan selalu bergerak bersama dengan budaya sesuai kebutuhan hidupnya.
Agama, suatu ajaran dimana manusia menjadi semakin mengenal diri dan Tuhannya, dan dari agamalah manusia semakin mengenal jati dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh dan mendiri. Baik agama samawi maupun agama pagan, tetapi dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa agama yang ada adalah ajaran dimana manusia manjalin interaksi dengan Tuhan dan sesamanya serta bagaimana berinteraksi dengan alam raya bagaimana manusia mengekjspresikan dirinya agar semakin eksis dalam ranah bermasyarakat dan beriman.
Dalam ranah budaya, seringkali seni menjadi salah satu musuh dari agama, sebab dalam seni para pelakunya menjadikan dirinya utuh tanpa tersekat. Masalah tersebut timbul sebab pemahaman agama sering kali tidak dapat mengakomodir apa yang menjadi kebutuhan para seniman dalam berekplorasi dan berkreasi. Namun, saat kita sebagai pribadi yang memahami seni dan agama sebagai sebuah bentuk yang sama tetapi dengan cara pengungkapan yang berbeda niscaya kedua hal tersebut menjadi sebuah kesatuan yang tidak akan terpisahkan. Apabila dalam seni dipahami sebagai bahasa ungkapan manusia yang paling ekspresif maka manusia akan menjadi manusia yang bebas serta akan menjadi manusia yang memahami agama sebagai bagian dari yang menyatu, sebab seni bukan lagi terbatas pada bahasa bentuk tetapi menjadi bahasa ungkapan dari spiritualitas sang seniman. Coba lihat dari berbagai karya seni yang ada, semisal karya sang maestro Affandi, dengan karya “Ayam Jago”-nya, dari karya tersebut Affandi menilai pertarungan ayam jago sebagai sebuah manifestasi manusia yang suka saling menghancurkan, saling membunuh, mudah diadu domba serta kekerasan lainnya yang tentunya sangat tidak sesuai sebagai mahluk yang dikenal sebagai manusia yang berbudaya serta bermartabat paling tinggi dan sempurna daripada makhluk lainnya dari semua ciptaan Tuhan. Karya Leonardo da Vinci, adalah karya yang sangat melegenda, dan dari karya tersebut banyak berbicara tentang kenabian Yesus, serta berabagai simbol yang memerlukan pengetahuan lebih agar kita mampu memahaminya. Dari berbagai lukisan tersebut, Da Vinci membahasan apa yang ada dalam kitab suci sebagai sebuah bahasa yang lebih sederhana dan lugas sehingga akan mudah dipahami oleh orang awan. Banyak lagi seniman yang telah menjadikan seni sebagi sebuah bahasa simbol dan bahasa rupa yang menjadikan agama sebagai sebuah bahasa yang akan mudah dimengerti untuk membawa manusia pada sebuah kebenaran hidup.
Melalui seni dan agama kita akan semakin menjadi manusia yang berspiritualitas, sebab seni adalah bahasa spiritualitas manusia dalam memahami agama dalam bentuk dan pandangan yang lain, bukan bersebrangan tetapi mendukung dan saling melengkapi satu sama lain, bukan merendahkan atau menghancurkan satu sama lain.
Semoga seni dan agama bukan lagi versus tetapi friend atau sahabat yang saling mendukung, bukan saling memusuhi.
SEMOGA KITA MENJADI MANUSIA YANG BERBUDAYA DALAM SPIRITUALITAS

Rabu, 29 Oktober 2008

memerdekakan Tuhan

Memerdekakan Tuhan adalah sebuah bahasa yang sangat saya sukai dan ini belum lama saya temukan setelah berdiskusi dengan seorang teman. Dalam diskusi tersebut kami membicarakan bagaimana kami melihat dan memahami Tuhan sebagai sebuah pribadi yang sangat khas dalam pola pikir manusia yang sangat terbatas.
Tuhan, sebuah bahasa yang sangat menarik untuk dipahami serta dikenal kita sebagai manusia yang tentunya ingin mengenalnya dengan lebih dekat. Manusia memahami Tuhan dengan berbagai macam bahasa yang tentunya sangat banyak sekali, sebab untuk bangsa Indonesia saja nama Tuhan begitu banyak dan mungkin dalam berbagai versi, dan tanpa kita sadari kita telah memenjarakan Tuhan dengan berbagai pemahaman tersebut, yang dalam berbagai macam versi agama yang kita kenal, kita mengenal Tuhan sebagai maha kuasa, maha suci, maha hebat, maha kuat, maha adil, maha mengetahui serta berbagai maha yang lainnya yang tentunya seperti saya katakan tadi, amat sangat banyak sekali.
Mungkin hal tersebut tidak salah, tetapi kebenaran tersebut tentunya hanya dalam kapasitas kemanusiaan kita yang tentu saja sangat terbatas dengan adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel syaraf atau neuron, yang tentunya akan sangat kecil dibandingkan mamahami ketuhanan secara utuh.Bukannya saya pesimis terhadap kemampuan otak dan kecerdasan manuisia, tetapi pemahaman yang pada akhirnya memenjarakan tuhan adalah sebuah "kejahatan" manusia yang dilakukan tanpa peradilan yang menurut saya sangat tak beralasan.
Jadi, dalam pemahaman saya, saat ini sudah waktunya membebaskan Tuhan dari keterbatasan dan keterkungkungan dari otak manusia kita yang ternyata sangat kecil. Apabila ditanyakan kebali lalu bagaimana manusia memahami Tuhannya, maka akan saya jawab sebagai seorang pribadi saya ingin membebaskannya dari otak saya, memang Tuhan sangat ingin saya pahami sebagai sebuah hubungan yang sangat personal serta sangat logis dalam melakukakukan apa yang terjadi pada hidup saya, tetapi dia menjadi sangat realistis saat kemanusiaan kita manjadi semakin sempurna dalam menjalani hidup ini. Memang pemahaman tersebut perlu dilihat dari sisi lain sebagai sebuah pemahaman yang sepertinya membingungkan dan paham yang dualisme, tetapi pahamilah dengan hati dan otak sebagai sebuah kesatuan yang utuh sehingga keduanya dapat berjalan dengan seimbang.
Tetapi bagaimanapun saya sangat percaya behwa kebenaran yang kita ketahui saat ini adalah kebenaran 50%, sedangkan sisanya adalah kebenaran yang masih perlu dipertanyakan kebenarannya, bagaimana dengan anda?